Minggu, 02 Agustus 2009
NUSANTARA JANGAN SAMPAI HILANG NUSANTARANYA
Apa itu budaya?
Istilah budaya terbentuk (diambil dari beberapa serat text kuno) tersusun istilah dari kata “buddhi” (budi) yang berarti kekuatan penyangga / pembentuk / penyimpan buah pikiran, kecerdasan, pencerahan, semangat hidup dalam akal. Lebih lengkapnya “ budi” juga disebut ingatan hati yang terdalam yang terdiri dari prinsip, persepsi, pikiran / perasaan / budi / cita-cita / angan-angan.
Budi juga bisa disebut akalnya budi atau fenomena matematis dari energi hidup di atas pikiran jasmani (prana) maupun perasaan (atma), tetapi tergolong dalam bejana batin budi atau yang disebut “purusa”. Sedangkan orang yang berbudi atau telah mengarungi pola cahaya budi disebut buda pengertian “budha” berarti orang yang telah mengalami buddhi seperti yang terjabar di atas. Pengertian diatas. Sebagai pelengkap / sandang dari sebuah sifat keseharian yang terpola dalam budi disebut ”yana” yang akhirnya kabudhan atau kabudayan. Jelaslah di sini terangkum istilah ”budaya” dan terlepas dengan penjelasan sebagai keyakinan aliran atau yang disebut a’kama, tetapi pola lebih dari pengalaman sruti, smerti atau serat (sutra). Ketegasan istilah budaya inilah menjadi sebuah pijakan kritis kearifan lokal dalam memilih kesadaran kolektif menuju sebuah perjalanan (perbuatan dan perilaku) menuju petualangan pencerahan cahaya budi (jenar/cahaya kuning kemilauan dan gemerlap).
Jadi budaya sebagai aktivitas budayawan (seseorang membidani pola pencerahan dan kecerdasan) yang menjamin terselenggaranya akal dalam batas-batas budi, seperti budi pekerti, budi luhur, budi daya, daya budi atau akal budi. Sebuah pola kesadaran penyusunan kembali memori-memori dibawah kesadaran manusia yang melekat dalam moralitas Nuswantara. Sangat vital ketika untuk membangun sebuah peradaban manusia, bukan perazaban manusia. Terlepas dari penggeseran & penyempitan makna yang terjadi. Kegiatan budaya adalah kegiatan yang sangat positif bagi perkembangan manusia itu sendiri, karena pertimbangan sosio – kognitif yang ada kembali pada vitalitas dari sebuah jati diri & identitas. Berbeda dengan istilah yang mengalami tranformasi makna dan arti, budaya seakan – akan mentah disebut pola keseharian dari masyarakat kolektif yang tersepakati dalam kebiasaannya. Tanda – tanda tersebut terpakai ketika jaman dan jagat telah mengalami dekadensi moral. Sedangkan makna sebenarnya dari budaya selalu membawa misi Memayu Hayuning Bawana atau keseimbangan hidup alam semesta dan mahluk hidup. Sisi inilah yang memperkuat makna budaya dengan istilah ekologi atau ekosistem dalam peran budaya ada, jika tidak bukanlah disebut budaya.
Bangun dan lestarikan budaya Nuswantara
Mengenang sejarah juang arkeolog Prof. DR. T. Yakob (alm) asal Aceh yang intens mengatakan secara tegas pitecantroppus erectus (manusia kera evolusi) sebagai homo sapiens (bangsa manusia) dari Trinil hingga Sangiran di kawasan tepian Bengawan Solo sebuah saksi nyata awal sebuah budaya Nuswantara.
Hingga detik ini, budaya Nuswantara dimata masyarakat Nuswantara sebagai suatu hal yang rendah dan sudah tidak layak lagi mengangkat martabat dan derajat. Tetapi bangsa Eropa sampai detik ini masih memiliki perhatian tentang pertumbuhan moralitas Nuswantara yang masih erat dalam kepribadian orang Nuswantara. Banyak sekali riset tentang wanita Nuswantara, lelaki Nuswantara, Petani Nuswantara, struktur dan kultural Nuswantara, dll. Maklumlah sebuah kejelasan membuka jalan terang yang patut dibanggakan sebagai suatu kesimpulan, bahwa budaya Nuswantara yang melekat dalam kepribadian sebagai bangsa yang kuat dan besar. Hal itu terlihat ketika alasan mereka memaparkan bahwa manusia Nuswantara secara nyata tidak akan pernah melepaskan kepribadiannya. Manusia Nuswantara sangat cerdas memisahkan bentuk relasi hubungan untuk menjaga sebuah interaksi sosial. Bangsa – bangsa yang datang membawa peradabannya, sampai detik ini saja tidak mampu menghempaskan budaya Nuswantara selama ribuan tahun lalu. Arti semua ini sebuah tanda bahwa budaya Nuswantara sangat melekat dalam gen – gen dalam kandungan darah keturunannya.
Nglurug tanpa bala, Menang tanpa Ngasorake, Sugih tanpa banda sebuah ciri yang khas dalam kepribadian individu budaya Nuswantara dalam mempertahankan hidup. Pengabdian, kesetiaan dan ketulusan sebagai pilar menjalin kepercayaan originalnya. Sekali lagi melihat petani Nuswantara dimasa 50 tahun ini. Jelas – jelas menurut masyarakat kota (masyarakat yang telah bertransformasi budaya) berpikir petani Nuswantara perlu dikasihani karena terus menjadi korban. Tetapi bagi petani Nuswantara tidak pernah mengenal kata mengeluh atau mengaduh hingga detik ini. Jalan penderitaan yang harus kita contoh itulah, disadari sebagai lelaku /olah batin keseharian yang menjadi pilar bangsa. Disadari atau tidak, petani Nuswantara tidak mengenal dengan istilah Kali Ilang Kedunge, Pasar Ilang Kumandange atau tidak ikut sedih terkena imbasan pasar bebas atau merkantilisme ideologi internasional
Istilah budaya terbentuk (diambil dari beberapa serat text kuno) tersusun istilah dari kata “buddhi” (budi) yang berarti kekuatan penyangga / pembentuk / penyimpan buah pikiran, kecerdasan, pencerahan, semangat hidup dalam akal. Lebih lengkapnya “ budi” juga disebut ingatan hati yang terdalam yang terdiri dari prinsip, persepsi, pikiran / perasaan / budi / cita-cita / angan-angan.
Budi juga bisa disebut akalnya budi atau fenomena matematis dari energi hidup di atas pikiran jasmani (prana) maupun perasaan (atma), tetapi tergolong dalam bejana batin budi atau yang disebut “purusa”. Sedangkan orang yang berbudi atau telah mengarungi pola cahaya budi disebut buda pengertian “budha” berarti orang yang telah mengalami buddhi seperti yang terjabar di atas. Pengertian diatas. Sebagai pelengkap / sandang dari sebuah sifat keseharian yang terpola dalam budi disebut ”yana” yang akhirnya kabudhan atau kabudayan. Jelaslah di sini terangkum istilah ”budaya” dan terlepas dengan penjelasan sebagai keyakinan aliran atau yang disebut a’kama, tetapi pola lebih dari pengalaman sruti, smerti atau serat (sutra). Ketegasan istilah budaya inilah menjadi sebuah pijakan kritis kearifan lokal dalam memilih kesadaran kolektif menuju sebuah perjalanan (perbuatan dan perilaku) menuju petualangan pencerahan cahaya budi (jenar/cahaya kuning kemilauan dan gemerlap).
Jadi budaya sebagai aktivitas budayawan (seseorang membidani pola pencerahan dan kecerdasan) yang menjamin terselenggaranya akal dalam batas-batas budi, seperti budi pekerti, budi luhur, budi daya, daya budi atau akal budi. Sebuah pola kesadaran penyusunan kembali memori-memori dibawah kesadaran manusia yang melekat dalam moralitas Nuswantara. Sangat vital ketika untuk membangun sebuah peradaban manusia, bukan perazaban manusia. Terlepas dari penggeseran & penyempitan makna yang terjadi. Kegiatan budaya adalah kegiatan yang sangat positif bagi perkembangan manusia itu sendiri, karena pertimbangan sosio – kognitif yang ada kembali pada vitalitas dari sebuah jati diri & identitas. Berbeda dengan istilah yang mengalami tranformasi makna dan arti, budaya seakan – akan mentah disebut pola keseharian dari masyarakat kolektif yang tersepakati dalam kebiasaannya. Tanda – tanda tersebut terpakai ketika jaman dan jagat telah mengalami dekadensi moral. Sedangkan makna sebenarnya dari budaya selalu membawa misi Memayu Hayuning Bawana atau keseimbangan hidup alam semesta dan mahluk hidup. Sisi inilah yang memperkuat makna budaya dengan istilah ekologi atau ekosistem dalam peran budaya ada, jika tidak bukanlah disebut budaya.
Bangun dan lestarikan budaya Nuswantara
Mengenang sejarah juang arkeolog Prof. DR. T. Yakob (alm) asal Aceh yang intens mengatakan secara tegas pitecantroppus erectus (manusia kera evolusi) sebagai homo sapiens (bangsa manusia) dari Trinil hingga Sangiran di kawasan tepian Bengawan Solo sebuah saksi nyata awal sebuah budaya Nuswantara.
Hingga detik ini, budaya Nuswantara dimata masyarakat Nuswantara sebagai suatu hal yang rendah dan sudah tidak layak lagi mengangkat martabat dan derajat. Tetapi bangsa Eropa sampai detik ini masih memiliki perhatian tentang pertumbuhan moralitas Nuswantara yang masih erat dalam kepribadian orang Nuswantara. Banyak sekali riset tentang wanita Nuswantara, lelaki Nuswantara, Petani Nuswantara, struktur dan kultural Nuswantara, dll. Maklumlah sebuah kejelasan membuka jalan terang yang patut dibanggakan sebagai suatu kesimpulan, bahwa budaya Nuswantara yang melekat dalam kepribadian sebagai bangsa yang kuat dan besar. Hal itu terlihat ketika alasan mereka memaparkan bahwa manusia Nuswantara secara nyata tidak akan pernah melepaskan kepribadiannya. Manusia Nuswantara sangat cerdas memisahkan bentuk relasi hubungan untuk menjaga sebuah interaksi sosial. Bangsa – bangsa yang datang membawa peradabannya, sampai detik ini saja tidak mampu menghempaskan budaya Nuswantara selama ribuan tahun lalu. Arti semua ini sebuah tanda bahwa budaya Nuswantara sangat melekat dalam gen – gen dalam kandungan darah keturunannya.
Nglurug tanpa bala, Menang tanpa Ngasorake, Sugih tanpa banda sebuah ciri yang khas dalam kepribadian individu budaya Nuswantara dalam mempertahankan hidup. Pengabdian, kesetiaan dan ketulusan sebagai pilar menjalin kepercayaan originalnya. Sekali lagi melihat petani Nuswantara dimasa 50 tahun ini. Jelas – jelas menurut masyarakat kota (masyarakat yang telah bertransformasi budaya) berpikir petani Nuswantara perlu dikasihani karena terus menjadi korban. Tetapi bagi petani Nuswantara tidak pernah mengenal kata mengeluh atau mengaduh hingga detik ini. Jalan penderitaan yang harus kita contoh itulah, disadari sebagai lelaku /olah batin keseharian yang menjadi pilar bangsa. Disadari atau tidak, petani Nuswantara tidak mengenal dengan istilah Kali Ilang Kedunge, Pasar Ilang Kumandange atau tidak ikut sedih terkena imbasan pasar bebas atau merkantilisme ideologi internasional
Langganan:
Postingan (Atom)
