
Refleksi dan Evaluasi Kader, Pare Kediri, Modjokutha !
Minggu Wage, 7 Maret 2010
Pukul 19.21 WIB
Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elo
Sri Romo menyang Solo
Leh-olehe payung motha
Pak Jenthit lolobah
Cino mati ora obah
Yen obah medheni bocah
Yen urip goleko dhuwit
Bulan Maret tanggal 7, 2010. Jiwa – jiwa penasaran merintih turun dengan jeritan sengsaranya. Kian derasnya jiwa yang tersesat secepatnya ingin jawaban. Keheningan malam menjelang pagi, terdengar kesenyapan penggalan tembang dolanan bocah di Lereng bukit Songgoriti, Batu, Malang. Jiwa kian suka berdebat, semakin rajin berdebat semakin pula tersesat di ruang kegelapan. Harapan tercerahkan dengan istilah terang jauh dari impian, karena mata hatinya telah buta memperkaya kegelapan. Bukankah wajar jika alam semesta kehidupan berjuta tahun hingga kini masihlah di perkaya oleh kegelapan, dan terang pencerahan hanyalah 5 % saja. Itupun haruslah kita mengerti, begitu cukup arti. Ya…., tiap manusia inginkan pencerahan di tengah kegelapannya,……itu sangatlah wajar – wajar saja.
Kegelapan menguasai 95 % dari dulu hingga kini, “Betapa dogma kebencian rupanya telah direncanakan dan di-spora-kan dari pertentangan sekitar rumah, bahkan kepada anak-anak bangsa.” Celotehku kepada Terang. Tergelincirlah aku, lalu aku meracik bumbu ungkapkan penyedap kegelapan agar nampak ada pencerahan. Begitulah sekedar ingin nampak terang, agar semua mampu terlihat jelas. Wajarlah jika aku nampak edan dan selalu ngedan di tengah kemapanan yang ada.
Lihat ....., lihatlah di atas saudaraku yang bersejiwa dan bersehati !, “Tembang di atas hanyalah salah satu ayat – ayat dari banyak cara penyebaran kebencian melalui percakapan, stereotype, lelucon, atau lagu dolanan…!” dengan lantang aku, sambil diriku terkekeh berusaha mencuci sel–sel syaraf otak kesemuanya yang merasa masih hidup.
“Kejahatan semacam itu dimulai dengan pemahaman bahwa awal dari semua perilaku adalah pikiran…!”, sepakat !
“Marilah kita persoalkan batas nalar kita, apakah diri kita sudah terkena memetika virus akal budi kita….!”
… sambil bersila sesaat rokok kretek Sampurna , aku hisap dan aku kepulkan di alam pikiran saudaraku yang masih merasa hidup di tengah kegelapannya.
“Gagasan itu akan menanamkan kebencian dalam pikiran yang kemudian teraktualisasi dalam budaya masyarakat, menjadi awal dari semua konflik…!” …..lalu.....
“Bagaimana menurut pendapatmu ?”
“Ok…” Aku’pun menyela dengan sebuah pertanyaan yang membingungkan,
“Apakah kesadaran kebencian memang sudah tertanam di dalam kesadaran nalar masyarakat…? “
“Sungguh menjadi tidak mengherankan apabila ragam akar persoalan, mulai dari sentimen-sentimen suku, Spiritualisme , sampai rasial masih terus berlangsung, selama naluri kebencian masih mengeram….!”, sahutku .
Aku kembali membalas dengan pengharapan kaburku…..
“Ingat. Antropolog Cliftford Gerzt, dengan karya peneletian Modjokuto! Masih segar dalam pikiran kita tentang the Religion of Java, yang membatasi kehidupan bangsa kita ! terbagi sudah ! terpecah sudah ! terbelah sudah !........
........trikotomi Santri, Abangan dan Priyayi tahun 1957 terlahir sebagai model perpecahan dari dulu hingga kini . Betapa tidak ! terjadilah transformasi aliran besar – besaran yang saling mengkubu dalam sebuah batasan – batasan nilai sosial yang teridentifikasi.
“Masyarakat diberi sandi kesadaran kolektif untuk berkumpul dengan sandi emosi dan amuk, menuangkan peradilannya…”
“Perbedaan suku, Spiritualisme , ras dan ideologi kelompok saat ini begitu mencuat, karena terpicu tiga warna penalaran. Begitulah ketika pengetahuan bangsa masih asing, kemudian ditanamkan nilai yang berupa batasan, akhirnya lahir tiga batasan trikotomi itu. Kasus perseteruan Spiritualisme , suku, budaya, kekuasaan, dll,”…….beserta model kekerabatan yang di masing – masing bangun.
”Hendaknya masyarakat memulai langkah idealnya dengan cara mengidentifikasikan dirinya, untuk bersiap menyimpan memori dan energinya, untuk membedakan warna kesatuan nalarnya, dan tak segan jika diperbandingkan satu sama lain. “
“inilah akibat isu integrasi disatukan dalam penalaran suku, Spiritualisme dan ras, hingga masuk dalam sentimen – sentimen yang sudah tak masuk akal, namun kini digunakan wajar untuk memanajemen peran pembangunan. Seakan – akan pandangan pembangunan itu mengisi segenap kegiatan ekonomi, dan....selalu senantiasa membatasi vitalitas nalar kecerdasan dan kearifan suku, spiritualisme dan ras.
Mana mungkin kecerdasan dan kearifan lokal akan menuju kebangkitan.....! semakin lama semakin menuju kegelapan ....! terbukti sudah budaya sopan santun di tian keluarga telah menuju kepunahan....! anak berani dengan orang tuanya dan orang tua berani meninggalkan anaknya hingga terlantar, .....kedua - duanya menjadi saling membenci dan tidak percaya......
Oleh sebab itu ayo nyalakan semangat Rekonsiliasi untuk menyelesaikan dendam sejarah masa lalu yang berdarah - darah akibat Trikotomi itu.....!”

