Kamis, 11 Maret 2010

Gemerlap / Kegelapan


Refleksi dan Evaluasi Kader, Pare Kediri, Modjokutha !

Minggu Wage, 7 Maret 2010
Pukul 19.21 WIB

Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elo
Sri Romo menyang Solo
Leh-olehe payung motha
Pak Jenthit lolobah
Cino mati ora obah
Yen obah medheni bocah
Yen urip goleko dhuwit


Bulan Maret tanggal 7, 2010. Jiwa – jiwa penasaran merintih turun dengan jeritan sengsaranya. Kian derasnya jiwa yang tersesat secepatnya ingin jawaban. Keheningan malam menjelang pagi, terdengar kesenyapan penggalan tembang dolanan bocah di Lereng bukit Songgoriti, Batu, Malang. Jiwa kian suka berdebat, semakin rajin berdebat semakin pula tersesat di ruang kegelapan. Harapan tercerahkan dengan istilah terang jauh dari impian, karena mata hatinya telah buta memperkaya kegelapan. Bukankah wajar jika alam semesta kehidupan berjuta tahun hingga kini masihlah di perkaya oleh kegelapan, dan terang pencerahan hanyalah 5 % saja. Itupun haruslah kita mengerti, begitu cukup arti. Ya…., tiap manusia inginkan pencerahan di tengah kegelapannya,……itu sangatlah wajar – wajar saja.

Kegelapan menguasai 95 % dari dulu hingga kini, “Betapa dogma kebencian rupanya telah direncanakan dan di-spora-kan dari pertentangan sekitar rumah, bahkan kepada anak-anak bangsa.” Celotehku kepada Terang. Tergelincirlah aku, lalu aku meracik bumbu ungkapkan penyedap kegelapan agar nampak ada pencerahan. Begitulah sekedar ingin nampak terang, agar semua mampu terlihat jelas. Wajarlah jika aku nampak edan dan selalu ngedan di tengah kemapanan yang ada.

Lihat ....., lihatlah di atas saudaraku yang bersejiwa dan bersehati !, “Tembang di atas hanyalah salah satu ayat – ayat dari banyak cara penyebaran kebencian melalui percakapan, stereotype, lelucon, atau lagu dolanan…!” dengan lantang aku, sambil diriku terkekeh berusaha mencuci sel–sel syaraf otak kesemuanya yang merasa masih hidup.

“Kejahatan semacam itu dimulai dengan pemahaman bahwa awal dari semua perilaku adalah pikiran…!”, sepakat !
“Marilah kita persoalkan batas nalar kita, apakah diri kita sudah terkena memetika virus akal budi kita….!”
… sambil bersila sesaat rokok kretek Sampurna , aku hisap dan aku kepulkan di alam pikiran saudaraku yang masih merasa hidup di tengah kegelapannya.

“Gagasan itu akan menanamkan kebencian dalam pikiran yang kemudian teraktualisasi dalam budaya masyarakat, menjadi awal dari semua konflik…!” …..lalu.....
“Bagaimana menurut pendapatmu ?”
“Ok…” Aku’pun menyela dengan sebuah pertanyaan yang membingungkan,
“Apakah kesadaran kebencian memang sudah tertanam di dalam kesadaran nalar masyarakat…? “
“Sungguh menjadi tidak mengherankan apabila ragam akar persoalan, mulai dari sentimen-sentimen suku, Spiritualisme , sampai rasial masih terus berlangsung, selama naluri kebencian masih mengeram….!”, sahutku .
Aku kembali membalas dengan pengharapan kaburku…..
“Ingat. Antropolog Cliftford Gerzt, dengan karya peneletian Modjokuto! Masih segar dalam pikiran kita tentang the Religion of Java, yang membatasi kehidupan bangsa kita ! terbagi sudah ! terpecah sudah ! terbelah sudah !........
........trikotomi Santri, Abangan dan Priyayi tahun 1957 terlahir sebagai model perpecahan dari dulu hingga kini . Betapa tidak ! terjadilah transformasi aliran besar – besaran yang saling mengkubu dalam sebuah batasan – batasan nilai sosial yang teridentifikasi.
“Masyarakat diberi sandi kesadaran kolektif untuk berkumpul dengan sandi emosi dan amuk, menuangkan peradilannya…”
“Perbedaan suku, Spiritualisme , ras dan ideologi kelompok saat ini begitu mencuat, karena terpicu tiga warna penalaran. Begitulah ketika pengetahuan bangsa masih asing, kemudian ditanamkan nilai yang berupa batasan, akhirnya lahir tiga batasan trikotomi itu. Kasus perseteruan Spiritualisme , suku, budaya, kekuasaan, dll,”…….beserta model kekerabatan yang di masing – masing bangun.
”Hendaknya masyarakat memulai langkah idealnya dengan cara mengidentifikasikan dirinya, untuk bersiap menyimpan memori dan energinya, untuk membedakan warna kesatuan nalarnya, dan tak segan jika diperbandingkan satu sama lain. “
“inilah akibat isu integrasi disatukan dalam penalaran suku, Spiritualisme dan ras, hingga masuk dalam sentimen – sentimen yang sudah tak masuk akal, namun kini digunakan wajar untuk memanajemen peran pembangunan. Seakan – akan pandangan pembangunan itu mengisi segenap kegiatan ekonomi, dan....selalu senantiasa membatasi vitalitas nalar kecerdasan dan kearifan suku, spiritualisme dan ras.
Mana mungkin kecerdasan dan kearifan lokal akan menuju kebangkitan.....! semakin lama semakin menuju kegelapan ....! terbukti sudah budaya sopan santun di tian keluarga telah menuju kepunahan....! anak berani dengan orang tuanya dan orang tua berani meninggalkan anaknya hingga terlantar, .....kedua - duanya menjadi saling membenci dan tidak percaya......
Oleh sebab itu ayo nyalakan semangat Rekonsiliasi untuk menyelesaikan dendam sejarah masa lalu yang berdarah - darah akibat Trikotomi itu.....!”

Ayo pilih ! Masyarakat Yang Takut, Penakut, Pemalu dan Tidak Percaya Diri.. atau Masyarakat yang Menakuti/kan.........?

Mari duduk bersama dalam satu meja....., selesaikan persoalan dengan etika...., tetapi bukan etika bagi - bagi roti kekuasaan tanpa keadilan......
Dalam satu meja hendaklah adil adanya Tuan....., Jangan sampai ada yang tidak kebagian...., nanti murung dan siap berteriak kencang dan lantang......,.minta ambil bagian......!
Hey...., Tuan ! Apakah semua kepentingan sudah di undang. Jika salah undang atau ada yang di undang tidak di undang ....akan jadi masalah besar nantinya....., Mereka akan mampu menggergaji meja kemakmuran itu nantinya dengan membingkaikan sejarah perlawanan. .....Ingat, mata hatimu dan telingamu haruslah tajam ....

Hey.....Tuan ! apakah sudah membangun 4 klas kehidupan !,

Hendaknya yg pertama Membangun klas kekerabatan penyalur dan penyeimbang kekuasaan, yaitu kekerabatan menengah atas sebagai panglima ekonomi yang mendistribusikan klas kepentingan itu !. Dia hendaknya ada, agar para elit pengatur keadaan kesadaran punya aturan dan pertimbangan serta posisi. Tegasnya kaum politisi, aparatus, rakyat yang hendak di atur hingga klas pengatur nilai kesadaram di dudukan semestinya,.... di dudukan pada klasnya serta bertimbang bersama.

Ingat budaya etos itu telah lama ada dan sejenak Tuan lupakan sekian puluh tahun ini...... , sebut saja kekerabatan para wangsa dengan memegang Dharma di wilayah ekonomi raya, si pengatur wangsa Pinandita yang mengendalikan orientasi pandang semua mental dan spiritnya, Wangsa Satria yang selalu menjaga stabilitas segala aktivitas dan Wangsa Sudra rakyat jelata.

Hey..... Tuan ! Ingat wangsa para pedagang yang weisha yang pandai dan cerdas menyalurkan barang produksi jerih payah wangsa sudra jelata untuk di jual. Keuntungan lebihnya di salurkan untuk kepentingan umum klas wangsa satria dan Pinandita. Para wangsa Satria yang duduk memegang dharma kesatriyanya sebagai pelaksana amanah wangsa sudra yang jelata dan bekerja keras sebagai garis pertahanan paling depan itu.
Tuan......, apakah dirimu telah lupa !
Dharma ksyatriya hendaknya terbangun kuat dan di jaga para wangsa Pinandita yang rajin memberikan wawasan. Mereka itu kumpulan para guru bangsa yang bertugas menjaga wawasan sehat semua klas dalam berkebangsaan....agar tejaga dharma bhaktinya.......
Wangsa ksyatriya tidak hanya para pemegang senjata dan pandai mengencangkan kelincahannya mengepalkan tangan, tapi juga pandai bertutur etika. itulah yang disebut Satriya militan di segalang bidang aparatur. Ksyatriya tidak hanya golongan yang diberi amanah senjata dan berpakaian cakap sebagai pasukan pertahanan semata. Ksyatriya yang memgang Dharma di manapun tugasnya. Politisi, Pegawai dalam susunan perintah dan pemerintahan beserta segla kempuan yang dari keahlian para sudra secara kompetitif. Diambil dari rencana bangun orang - orang terpilih dari kaum sudra yang jelata, yang mengerti bahwa bahwa kecakapan apapun adalah senjata pertahanan bangsa. Biarkan para ksyatriya memegang dharma bhaktinya menjaga wangsa sudra dalam bercocok tanam segala potensinya. Biarkanlah wangsa pedagang mendistribusikan kemampuannya dalam berdeplomasi dan bertanggung jawab sepenuhnya atas tuannya, yaitu wangsa sudra yang jelata itu.
Ingat, Tuan ! Wangsa pedagang yang weisha itu tidak hanya piawai dalam berdagang, menjual barang dagangan yang di buat para wangsa sudra !, Ingat ! mereka itu wangsa pemegang diplomasi kepentingan .....untuk membangun kumandangnya pasar kembali. Biarkan mereka berkuasa atas Dharma Bhaktinya...untuk mendistribusikan tugas dari nilai lebih yang mereka kerjakan, demi kelancaran wangsa Ksyatriya dan pinandita.

Sekian 4 klas masyarakat itu, hendaknya dirimu pandai membahasakannya, karena jaman sudah berubah dan berbeda......, Toh semuanya hanyalah kata dan kalimat....yang terpenting adalah subtansinya menjadi kenyataan. Jaman telah menjadi modern. kebiasaan berubah, demikian pakaian dan tata cara berkomunikasi berubah. Pandailahlah mentransformasikan dalam teks dan bahasa sesuai jaman ini,....dengan teori atau metodelogi serta asumsi linear. Jangan takut menghadapi jaman dan jagat, meskipun nalar saat ini masih konvensional dan matrik dan belum mapan linearnya.

Kapan hendak maju, melaju kenjang....jika landasan meja penuh roti kemakmuran di buat rebutan sejuta kepentingan......, kapan ?!?
Landasan Meja yang penuh roti dan anggur kesejahteraan itu, jadi rebutan sekawanan serigala berbulu domba....

Inilah yang di maksud perlu pilar satu arah pandang....., agar tidak berebut kepuasan dan menginjak yang lemah.....


Berarti, harus ada konsep membangun jati diri dan identitas agar kepercayaan diri bangsa membangun orientasi tiap individu bangsa. Jika seperti itu berarti masyarakat Indonesia akan menjadi masyarakat bahaya bagi lawannya dan sudah tidak takut dengan ilfiltrasi apapun, tetapi justru di takuti oleh kebudayaan asing apapun.

Seminar Dan Kaderisasi tingkat Dasar III GMRP


Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Seminar budaya dan Kaderisasi
Dasar (SKD) ke 3 GMRP Jawa Timur, telah usai dan sukses terselenggara,
Maturnuwun Romo, Majelis Tengger, Dulur Punten, Korcab Pare, Jember,
Blitar, Surabaya, Tuban, Malang, Bojonegoro, Bangkalan, Sumenep,
Magetan, Bondowoso dan Madiun..... Indonesia M......ERDEKA PANCASILA SAKTI..!!!!! salam budaya, mmmmMmooOOooooOOoOoOOoo..................

Kamis, 07 Januari 2010

Mohon Maaf

Mohon maaf saudara/i ku, beberapa hari ini di runyamkan dengan penggandaan profile grup secara, jadi harus kami ganti dengan grup yang berjudul Taman Pancasila Study Club. Namun kemudian nama itu di palsu dengan alamat http://www.facebook.com/group.php?gid=247376870408&ref=search&sid=100000279558578.3349688926..1.
ini menjadi sebuah bukti pemalsuan profile grup kami....hingga berisi tautan pornografi, mohon maaf dan kerjasamanya

Talent generate Philosophy Art & Talent you, my friend!


Systematic philosophy and structure to answer your thinking, especially the natural order of your mind. The habit of asking, the question that has not been answered satisfactorily kept constant in the dust to clear, still will gather as a basis for construction of dialectics, logic and prior to awareness berasio materialism in order to be able to thank many people collectively.
Philosophy has a function as a basis to think of the nature of Indonesian society thinks. Any differences to unite all things to move through the ideas that can construct a natural awareness of each individual society thinks differently though. Say in this sense there is a pluralism can in united within the framework and foundation of dialectic thinking, logic, reason and the materials and techniques. This understanding is evident when the people of Indonesia have not been able to answer the question at this stage that there is, although many ideas - the idea has been there for so many. This means that people are experiencing a crisis of philosophy.

-------------------------------------- ****** ---------------------------------------

La filosofía sistemática y la estructura para responder a su manera de pensar, sobre todo el orden natural de la mente. La costumbre de preguntar, la pregunta que no ha sido contestada satisfactoriamente mantiene constante en el polvo para limpiar, todavía se reunirán como base para la construcción de la dialéctica, la lógica y antes de que el materialismo berasio conciencia a fin de poder dar las gracias a muchas personas en conjunto.
La filosofía tiene una función como una base para pensar en la naturaleza de la sociedad indonesia piensa. Las diferencias para unir a todas las cosas para moverse a través de las ideas que puede construir un conocimiento natural de cada sociedad piensa de manera diferente aunque. Decir, en este sentido, hay un pluralismo puede en unidos en el marco y fundamento del pensamiento dialéctico, la lógica, la razón y los materiales y técnicas. Esta idea resulta evidente que el pueblo de Indonesia no han sido capaces de responder a la pregunta en este momento que existe, aunque muchas de las ideas - la idea ha estado allí durante tantos años. Esto significa que la gente está experimentando una crisis de la filosofía

Sabtu, 05 Desember 2009

Jangan Skeptis

Rakyat susah makan dan mencetak generasi2 apatis skpetis seperti bung, adalah produk penjajahan tatanilai seberang entah kapitalis atau sosialis atau entah apa namanya itu yang kusebut postkeblinger dan ultrangawur,

Pancasila berbicara mngenai :

1 berdaulat dibidang Politik... Read More

2 berdikari dibidang ekonomi

3 berkepribadian di bidang budaya

Jelas, berbicara Pancasila harus dengan perut kenyang, dan disini diberikan cara2 untuk itu sebagai simpul dan simbol kekuatan ekonomi sebagai kekuatan penopang gerakan,

Sepakat bahwa berideologi harus mencakup aksi , organisasi dan diskusi, tapi bgmana bisa diskusi kalo bung menghindar terus, atau bung takut berbicara tentang Pancasila??? dan memilih berbicara yang lain, Cewek misalnya hahahaha....

Lalu kembali saya bertanya siapakah yang tak tuntas dalam ranah Mitologi, cosmologi dan teology serta epistemologi dalam ranah onto dan into...????

Berbicara tanpa aksi, protes2 tanpa kerangka yang jelas lalu menolak dialektika, adalah pangkal dari uthopia hidup makmur dan sejahtera, Sampai kapanpun akan tetap Utophis, BANGUN BUNG !!!! Komitlah dan kongkritlah !!!

Discussion of the first principle of Pancasila: Belief in God Almighty (the concept of world peace); by the moral movement of re

Belief in God Almighty (first principle)

Mindset of theos? In the world of various concepts of theos .. theos at the agreed time as the first Lord of the divine religions, as it was felt there is a battle between theos? Mahluknya? And people masing2nya?

In a secular humanist, as renaisance, Aufklaerung which developed into secular humanist, humanitarian ethics, which in theos Religion in separate from the state when it is not guarantee world peace.

Religion VS state
Mastery of hegemony, power, domination
Capitalism VS Socialism
Tesa VS antitesa

Synthesis = democrats lost kingdom, republic MISSING!

Spirit, mental, air, passion, principles and presepsi, became the soul of mind, soul feeling, soul gesture of gratitude to be turned into a sensation, emotion, energy, knowledge, memory mindset structure commonly called VALUE.

How theos structure, the structure is not limited memory, it must be woven in value, because if it is not limited by the value of the ethos and ethics will be damaged. Being negative emotions or amuck

The failure of global cultural strategy, is not the manifestation and a clear flow of life and the lives of the fighting will not theos later on our children and grandchildren.

Sila 1 Pancasila (belief in one supreme God) is cita2 all mankind not only in the Indonesian archipelago, as the soul awareness to avoid fighting and "tantrum" during the life of mankind.

Then we dare, talk about Belief in God Almighty?


Ideology Trasendental - immanent

Product transendential legal, moral, policy - the concept of stickiness of the world / fanaticism

Immanent - of liberation, not transcending ideology but the concept of horizontal between people.

The root of the friction problem, is the individual understanding of theos

Secular humanist, who initially well-intentioned TO FINALLY caught in hegemony, power and domination and monopoly capital. Understanding that the God of my religion, different from the religion of God my friend, and so on,

Building infrastructure and supra;
SUPRA - ethical values, civil soc, cosmopolitans, values, rules to manage power distribution to the public.
Infra; Tmpt worship, government buildings. Who unwittingly limit the initial conception of theos "without limit" to be narrow and limited.

In the understanding of Java: the micro-macrocosm, unity kawulo gusti.

Mythic mind

Logical

Technical

Western and eastern paradigms imbalance makes the world, globalization paradox.

Religion as a tool of liberation or the spirit or religion as a tool to power struggles (nah lo!)

How about you??

Eventually all things become crisis of truth, existence, prespsi, perspective, interpretation.

This paper made a conscious rather than as a means of breaking and debate, but as a reflection,, means giving the reader memberika colors and options.