Mari duduk bersama dalam satu meja....., selesaikan persoalan dengan etika...., tetapi bukan etika bagi - bagi roti kekuasaan tanpa keadilan......
Dalam satu meja hendaklah adil adanya Tuan....., Jangan sampai ada yang tidak kebagian...., nanti murung dan siap berteriak kencang dan lantang......,.minta ambil bagian......!
Hey...., Tuan ! Apakah semua kepentingan sudah di undang. Jika salah undang atau ada yang di undang tidak di undang ....akan jadi masalah besar nantinya....., Mereka akan mampu menggergaji meja kemakmuran itu nantinya dengan membingkaikan sejarah perlawanan. .....Ingat, mata hatimu dan telingamu haruslah tajam ....
Hey.....Tuan ! apakah sudah membangun 4 klas kehidupan !,
Hendaknya yg pertama Membangun klas kekerabatan penyalur dan penyeimbang kekuasaan, yaitu kekerabatan menengah atas sebagai panglima ekonomi yang mendistribusikan klas kepentingan itu !. Dia hendaknya ada, agar para elit pengatur keadaan kesadaran punya aturan dan pertimbangan serta posisi. Tegasnya kaum politisi, aparatus, rakyat yang hendak di atur hingga klas pengatur nilai kesadaram di dudukan semestinya,.... di dudukan pada klasnya serta bertimbang bersama.
Ingat budaya etos itu telah lama ada dan sejenak Tuan lupakan sekian puluh tahun ini...... , sebut saja kekerabatan para wangsa dengan memegang Dharma di wilayah ekonomi raya, si pengatur wangsa Pinandita yang mengendalikan orientasi pandang semua mental dan spiritnya, Wangsa Satria yang selalu menjaga stabilitas segala aktivitas dan Wangsa Sudra rakyat jelata.
Hey..... Tuan ! Ingat wangsa para pedagang yang weisha yang pandai dan cerdas menyalurkan barang produksi jerih payah wangsa sudra jelata untuk di jual. Keuntungan lebihnya di salurkan untuk kepentingan umum klas wangsa satria dan Pinandita. Para wangsa Satria yang duduk memegang dharma kesatriyanya sebagai pelaksana amanah wangsa sudra yang jelata dan bekerja keras sebagai garis pertahanan paling depan itu.
Tuan......, apakah dirimu telah lupa !
Dharma ksyatriya hendaknya terbangun kuat dan di jaga para wangsa Pinandita yang rajin memberikan wawasan. Mereka itu kumpulan para guru bangsa yang bertugas menjaga wawasan sehat semua klas dalam berkebangsaan....agar tejaga dharma bhaktinya.......
Wangsa ksyatriya tidak hanya para pemegang senjata dan pandai mengencangkan kelincahannya mengepalkan tangan, tapi juga pandai bertutur etika. itulah yang disebut Satriya militan di segalang bidang aparatur. Ksyatriya tidak hanya golongan yang diberi amanah senjata dan berpakaian cakap sebagai pasukan pertahanan semata. Ksyatriya yang memgang Dharma di manapun tugasnya. Politisi, Pegawai dalam susunan perintah dan pemerintahan beserta segla kempuan yang dari keahlian para sudra secara kompetitif. Diambil dari rencana bangun orang - orang terpilih dari kaum sudra yang jelata, yang mengerti bahwa bahwa kecakapan apapun adalah senjata pertahanan bangsa. Biarkan para ksyatriya memegang dharma bhaktinya menjaga wangsa sudra dalam bercocok tanam segala potensinya. Biarkanlah wangsa pedagang mendistribusikan kemampuannya dalam berdeplomasi dan bertanggung jawab sepenuhnya atas tuannya, yaitu wangsa sudra yang jelata itu.
Ingat, Tuan ! Wangsa pedagang yang weisha itu tidak hanya piawai dalam berdagang, menjual barang dagangan yang di buat para wangsa sudra !, Ingat ! mereka itu wangsa pemegang diplomasi kepentingan .....untuk membangun kumandangnya pasar kembali. Biarkan mereka berkuasa atas Dharma Bhaktinya...untuk mendistribusikan tugas dari nilai lebih yang mereka kerjakan, demi kelancaran wangsa Ksyatriya dan pinandita.
Sekian 4 klas masyarakat itu, hendaknya dirimu pandai membahasakannya, karena jaman sudah berubah dan berbeda......, Toh semuanya hanyalah kata dan kalimat....yang terpenting adalah subtansinya menjadi kenyataan. Jaman telah menjadi modern. kebiasaan berubah, demikian pakaian dan tata cara berkomunikasi berubah. Pandailahlah mentransformasikan dalam teks dan bahasa sesuai jaman ini,....dengan teori atau metodelogi serta asumsi linear. Jangan takut menghadapi jaman dan jagat, meskipun nalar saat ini masih konvensional dan matrik dan belum mapan linearnya.
Kapan hendak maju, melaju kenjang....jika landasan meja penuh roti kemakmuran di buat rebutan sejuta kepentingan......, kapan ?!?
Landasan Meja yang penuh roti dan anggur kesejahteraan itu, jadi rebutan sekawanan serigala berbulu domba....
Inilah yang di maksud perlu pilar satu arah pandang....., agar tidak berebut kepuasan dan menginjak yang lemah.....
Berarti, harus ada konsep membangun jati diri dan identitas agar kepercayaan diri bangsa membangun orientasi tiap individu bangsa. Jika seperti itu berarti masyarakat Indonesia akan menjadi masyarakat bahaya bagi lawannya dan sudah tidak takut dengan ilfiltrasi apapun, tetapi justru di takuti oleh kebudayaan asing apapun.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar