
Sebuah ancaman bagi kedaulatan NKRI, ketika kesadaran bangsa Indonesia sedang terbungkus oleh akurasi dan target imaji Semiotika dan Hermeneutika yang tersistem dalam strukturalisme Sistem Global Governance. Boleh dibilang menarik ketika kalimat itu menjadi sebuah perhatian. Dari segala ruang, waktu dan tempat telah terbelenggu segala fenomenanya teks dan tata bahasa. Teks dan bahasa itu dirancang melampaui batas pikiran, perasaan, budi (spirit dan mental) dan terkadang melampaui pengertian batas bahasa itu sendiri. Sangatlah menarik ketika berkomunikasi satu sama lain, tetap akhirnya sebuah kesadaran kolektif mampu dicipta sesuai perencanaan. Akhirnya bentuk kebebasan menjadi pudar ketika telah diatur dan dikendalikan oleh teks dan bahasa. Hanya dengan tehnik Hermeneutika dan semiotika, kesadaran bangsa Indonesia mudah dibelenggu dan di jajah tanpa sadar dan tanpa menggugat. Bahkan, jika di dapati elemen bangsa yang melakukan penggugatan, hanya akan berhenti di ruang politik kekuasaan. Perjuangan menggugat itupun pada akhirnya jauh dari keadilan dan pencapaian kesejahteraan bangsa dan menjadi perjuangan kelompok semata karena telah terjebak oleh sistem strukturalisme teks dan bahasa yang telah tercipta.
Siapa dan Lembaga (organisme) apa yang tidak berhadapan dengan teks serta bahasa ? Dari elemen aparatur pemerintahan negara dan non pemerintahan’pun berhadapan dengan teks serta bahasa. Hingga anggapan membangun manusia modern terbatas dalam ruang perjumpaan dengan teks dan bahasa dimanapun berada. Dari segala ruang, waktu dan tempatnya tidak luput dengannya. Pada akhirnya dengan Semiotika dan tehnik Hermeneutika semua elemen bangsa terjajah dan terbelenggu nalar kesadarannya. Kesadarannya mudah terkonstruksi dalam kubus – kubus yang telah disediakan. Dari sinilah saya akan memaparkan proses tehnik Semiotika dan Hermeneutika strukturalisme Global Governance (termasuk Indonesia) terjadi dalam kerangka nalar kesadaran bangsa Indonesia.
Masihkah kita ingat tentang pragmatisme sampai neopragmatisme. Masihkah kita ingat tentang liberalisme sampai tehnik neoliberalisme. Semua yang berteriak dan beroar – koar membangunkan semangat tetap akan berakhir di ruang buntu, yaitu ikut serta membangun agenda strukturalisme Golbal Governance. Tegasnya, perjuangan menuju kemerdekaan telah terbelenggu oleh teks yang sengaja dirancang dalam target dan akurasinya. Segala nilai – nilai perjuangan telah dibelenggu oleh tehnik Semiotika dan Hermeneutika. Inilah yang disebut penjajahan nilai atau menjajah ruang bawah sadar bangsa Indonesia, yang genap melengkapi pengertian dan anggapan bahwa tidak hanya yang dimengerti hanya penjajahan fisik (rupa ekpansi militer) saja. Secara jujur hati, hanya penjajahan fisik saja yang dikenal bangsa Indonesia mengenal istilah penjajahan. Dengan kenyataan itu, bagaimana bisa bangsa Indonesia terutama diruang kebudayaan dan peradabannya mampu menjamin kemerdekaannya, ketika kesadaran bangsanya telah terbelenggu oleh teks dan bahasa. Akhirnya kesadaran jati diri bangsa secara bertahap dari kesadaran pra liberalisme, menuju liberalisme kemudian menuju neo liberalisme.
Tehnik semiotika dan hermeneutika menjadi panglima ketika teks terbaca atau dibaca serta dimengerti dalam tiap gejala arti, makna dan definisinya. Dengan semiotika, membangun sistem keragaman dari tanda dan simbol spirit dan mental sebuah perilaku sosial hingga terbungkus di dalam teks. Sedangkan Hermeneutika, menjadi teknik interprestasi dan pemahaman teks secara filosofi. Keduanya tidak jauh dengan teks-teks yang mengacu kedalam gejala tanda perubahan sosial berupa simbol dan filosofinya. Sumber kesadaran dalam penjelajahan semiotika dan hermeneutika melalui perubahan tanda atau simbol serta filosofi. Dari situlah arti, makna dan definisi dapat dibangun dalam bentuk perubahan atau penggeseran yang sesuai kehendak akurasi dan target. Akhirnya tehnik itu mampu membangun sistem ruang, waktu dan tempat dalam subtansi, operasional, fungsional dan organisasional. Bagaimana mengetahui dan memahami tehnik perubahan – perubahan sosial ? dan bagaimana bisa terjadi sampai mencapai kesadaran atau pengendalian dan pengaturan bawah sadar bangsa Indonesia ? Banyak sumber yang ditemui. Dominannya banyak ditemui dalam karya seni, filosofi atau sastra, hingga – hingga fenomena – fenomena abstrak yang terekspresi dalam segala karya seni hingga kegiatan para spiritual atau masyarakat tradisi dan kearifan lokal Bangsa Indonesia. Dari sumber itulah di yakini adanya simbol dan kejadian yang abtrak atau dalam pengalaman mitis sekalipun (tak terjangkau akal) akan menjadi teks – teks jika disusun dalam tata bahasa. Jika telah tersusun dalam teks dalam dinikmati oleh alam kesadaran bangsa Indonesia, maka akan terjadi perubahan di dalam arah dan peta kebudayaannya, sesuai apa yang dikehendaki oleh Global Governance.
Mari kita ingat Sigmund Freud dengan The Interpretation of Dreams awal dari psyko analisa. Dia memaparkan tentang Interprestasi sebagai pengalaman kekuatan imaji yang sangat subyektif dan justru akan dijumpai pesan – pesan dan tanda, gejala serta pesan yang mempengaruhi prosesi peradaban manusia. Sedangkan Friedrich Schleiermacher dengan mengeksplorasi makna, arti dan definisi dengan mem-framing isi dalam term yang akhirnya mampu untuk mengorganisir suatu pemahaman yang diikuti oleh perjalanan peradaban. Lalu Wilhelm Dilthey yang cenderung mengikuti perilaku historis dari sebuah tindakan, hingga menghasilkan rekonstruksi pemikiran, dikarenakan proses artikulasi atas sisi historis. Derida dengan differance dan dekonstruksi yang menjelaskan kesadaran pikiran terjebak dalam bahasa dan kesadaran pikiran terjebak dalam teks. Dan Carl G. Jung dengan sikronik dan diakronik, adanya keterhubungan menjadi sistem hingga menjelaskan fungsionalisasi dan operasionalisasi hingga menjadi kekuatan organik. Sedangkan Ferdinand de Saussure mefokuskan simbol penanda dan petanda, dimana “petanda” ada unsur mental “penanda” dan “petanda”. Sedangkan “Penanda” ada akustik atau suara. Seperti ketabuan dan kelayakan, norma, positif dan negatif atau benar dan salah. Atau arbitrer tanpa batasan. Pierce dengan tanda, objek, dan interpretan. Dan tokoh - tokoh lainnya seperti Jacques Lacan, Julia Kristeva, Luce Irigaray, dll.
Mari coba kita bayangkan untuk memperbaharui kesadaran atas perombakan kemapanan yang tidak menguntungkan bagi Global Governance itu, mereka mampu menciptakan kekuatan semiotika dan hermeneutika. Tidak heran ketika melihat perpolitikan Indonesia, segenap elemen bangsanya ketika pemilu 2009 ini terlihat saling teradu domba atau saling berseteru satu sama lain. Sekilas seperti tidak memahami komitmen tujuan kemerdekaan bangsa Indonesia yang sesuai jiwa Pancasila dan Preambule UUD’45. Satu sama lain cenderung menjatuhkan demi politik kekuasaan dan persoalan besar melawan neo’lib hanya sekilas sebagai alat perjuangan untuk mencapai kekuasaan saja. Setidaknya di dalam ulasan ini akan memberikan nilai – nilai yang harus kita perjuangkan, yaitu membangun jati diri bangsa agar mengisi persatuan dan kesatuan bangsa sebagai syarat berdirinya istilah kedaulatan. Disadari atau tidak, bangsa kita telah terjajah secara nilai dan penjajahan nilai lebih besar resikonya daripada penjajahan fisik yang harus dibayar dengan perang sekalipun. S’moga para Capres dan Cawapres 2009 memiliki kesadaran murni dari jati diri bangsa Indonesia, dan berjuang bukan karena telah teracuni oleh tehnik Semiotika dan Hermeneutika di dalam nilai – nilainya yang cenderung terikat oleh teks serta bahasa.tulisan ini dibuat oleh sapto raharjo

wah,, kok bahasan tentang pragmatisme dan neopragmatisme-nya ngga ada...
BalasHapussaya kita justru itu yang anda lewati dlm konteks kesadaran nasionalis.
belum di publish... via FB lebih lengkap saudaraku...
BalasHapus